Internet cepat dengan harga murah adalah janji yang mudah diucapkan, tapi tidak mudah diwujudkan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kini membidik layanan internet rumah 100 Mbps dengan tarif sekitar Rp100 ribu per bulan. Di sisi lain, data terbaru menunjukkan 235 juta penduduk Indonesia sudah terhubung ke internet — namun sebagian besar masih mengandalkan ponsel dan jaringan 4G, bukan internet tetap di rumah. Artikel ini membandingkan target pemerintah dengan realita di lapangan, berdasarkan data yang tersedia, tanpa melebih-lebihkan janji yang belum terwujud.
Target Internet Murah Komdigi: 100 Mbps Sekitar Rp100 Ribu
Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria usai Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta Pusat pada 12 Oktober 2026. Komdigi menyatakan tengah mengkaji penurunan biaya layanan internet tetap atau fixed broadband, agar koneksi 100 Mbps bisa dibanderol sekitar Rp100 ribu per bulan.
Penting untuk membaca target ini secara tepat. Pertama, ini adalah target yang masih dikaji, bukan paket yang sudah tersedia merata di seluruh Indonesia. Sejumlah pemberitaan menegaskan Komdigi belum mengumumkan tanggal ketersediaan nasional untuk layanan Rp100 ribu tersebut. Kedua, dalam pernyataan lain di Bali Tech Week 2026 pada 19 Oktober 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan kisaran yang sedikit lebih lebar, yaitu Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per bulan, dengan horizon kecepatan 100 Mbps pada 2029 melalui pemanfaatan spektrum frekuensi 1,4 GHz untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA). Jadi, angka Rp100 ribu sebaiknya dipahami sebagai ujung bawah dari kisaran target, bukan harga pasti yang berlaku hari ini.
Alasan target ini muncul cukup jelas. Nezar Patria menyebut biaya langganan internet rumah tangga saat ini berada di kisaran Rp300 ribu per bulan, dan menurut data International Telecommunication Union (ITU), biaya tersebut masih tergolong tinggi. Biaya ideal, menurutnya, berada di bawah Rp200 ribu per bulan. Menekan harga menjadi sekitar Rp100 ribu berarti memangkas sekitar dua pertiga dari biaya yang dirasakan masyarakat saat ini — sebuah lompatan besar yang menuntut perluasan jaringan, bukan sekadar pengumuman tarif.
Di sinilah peran fixed broadband menjadi kunci. Komdigi mencatat penetrasi fixed broadband saat ini baru sekitar 22 persen dari total konektivitas yang ada, dan pemerintah ingin meningkatkannya hingga sekitar 50 persen. Logikanya: semakin banyak rumah tangga terhubung ke jaringan tetap, semakin besar skala ekonomi yang bisa menekan biaya per pelanggan. Sebaliknya, selama konektivitas masih didominasi internet seluler, harga dan kualitas akan lebih sulit ditekan secara merata.
Data APJII 2026: 235 Juta Pengguna, Mayoritas Lewat HP
Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235,26 juta jiwa, atau setara dengan penetrasi 81,72 persen dari total populasi. Angka ini naik sekitar 6 juta pengguna dibandingkan 2025, ketika penetrasi masih 80,66 persen atau sekitar 229 juta pengguna. Survei ini dilakukan pada 1 Februari hingga 15 Maret 2026, melibatkan 8.700 responden warga negara Indonesia berusia 13 tahun ke atas di 38 provinsi, dengan margin of error sekitar 1,1 persen.
Namun, angka besar itu menyimpan ketimpangan. Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan penetrasi tertinggi, yaitu 85,95 persen, sekaligus menyumbang 58,24 persen dari seluruh pengguna internet nasional. Artinya, lebih dari separuh pengguna internet Indonesia berada di satu pulau, sementara pemerataan di luar Jawa tetap menjadi pekerjaan rumah.
Perangkat yang digunakan pun menggambarkan realita yang berbeda dari target fixed broadband. Laporan yang mengutip data APJII secara langsung menyebut 84,31 persen pengguna mengakses internet lewat smartphone sebagai perangkat utama. Perlu dicatat secara jujur: sebagian pemberitaan turunan menulis angka 84,21 persen untuk indikator yang sama. Selisih kecil ini kemungkinan berasal dari perbedaan pembulatan atau versi kutipan, sehingga angka yang dipakai dalam artikel ini adalah 84,31 persen dari laporan yang mengutip APJII secara langsung, dengan catatan atas varian 84,21 persen tersebut.
Soal harga, survei APJII juga memberi gambaran yang membumi. Kelompok pengeluaran paket data seluler terbesar adalah Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per bulan, dengan porsi 55,3 persen responden. Sementara itu, bagi layanan WiFi atau internet tetap, biaya sekitar Rp300 ribu per bulan masih menjadi gambaran umum yang dirasakan masyarakat. Dengan kata lain, target Rp100 ribu untuk 100 Mbps memang sejalan dengan daya beli mayoritas pengguna seluler — tetapi jauh di bawah harga internet tetap yang berlaku saat ini.
Yang tak kalah penting, pengguna ternyata tidak hanya mengejar kecepatan tertinggi. Survei APJII 2026 yang dikutip sejumlah media mencatat 47,4 persen responden mempertimbangkan kestabilan jaringan dan kekuatan sinyal ketika memilih penyedia layanan. Temuan senada muncul dalam survei yang sama: 70,4 persen responden memilih paket berharga sedang dengan jaringan yang cukup stabil, jauh di atas yang memilih paket termahal dan tercepat (15,6 persen). Pesan untuk target internet murah menjadi jelas: harga Rp100 ribu hanya akan berarti bila koneksinya stabil, bukan sekadar kencang di atas kertas.
Realita 4G dan 5G: Terhubung Belum Berarti Merata
Di atas kertas, jaringan seluler Indonesia tampak hampir menyeluruh. Hingga kuartal I 2026, cakupan layanan 4G telah mencapai 98,96 persen populasi Indonesia, atau sekitar 267 juta jiwa. Namun, angka ini harus dibaca bersama penyebutnya. Bila dihitung berdasarkan luas wilayah, cakupan 4G baru sekitar 54,23 persen atau setara 1,03 juta kilometer persegi. Artinya, hampir semua penduduk berada di area yang terjangkau 4G, tetapi bentang wilayah yang terjangkau masih jauh dari menyeluruh — dan kualitas di dalam area yang “tercakup” pun belum tentu sama.
Untuk 5G, kehati-hatian membaca angka menjadi jauh lebih penting. Angka 8,5 persen yang kerap beredar bukanlah penetrasi 5G saat ini, melainkan target cakupan 5G pada 2026 yang dihitung berdasarkan luas permukiman. Kondisi aktualnya masih jauh lebih awal. Pernyataan Menkomdigi pada Agustus 2026 menyebut cakupan 5G sekitar 2,38 persen wilayah, sementara data proyeksi Komdigi kuartal I 2026 yang dikutip media lain menyebut 26,83 persen luas permukiman. Kedua angka itu tidak bisa dibandingkan begitu saja karena penyebutnya berbeda — persen wilayah versus persen luas permukiman — dan artikel ini tidak memilih salah satunya secara diam-diam. Kesimpulan yang aman: 5G di Indonesia masih dalam tahap awal pengembangan, dan 8,5 persen adalah sasaran, bukan capaian.
Rata-rata kecepatan pun masih di bawah janji 100 Mbps. Data yang disampaikan pemerintah dalam Bali Tech Week 2026 mencatat rata-rata kecepatan internet bergerak (mobile broadband) sebesar 84,03 Mbps, sedangkan internet tetap (fixed broadband) tercatat 67,45 Mbps. Angka rata-rata tentu bukan pengalaman setiap pengguna, tetapi ia menunjukkan jarak yang masih harus ditempuh sebelum 100 Mbps menjadi standar yang dirasakan luas, bukan sekadar target.
Ada pula kelompok yang belum terhubung sama sekali. Menurut APJII, alasan utama penduduk belum terkoneksi adalah tidak memiliki perangkat yang dapat terhubung ke internet (34,0 persen), tidak mengetahui cara menggunakan perangkat digital (31,5 persen), dan harga kuota internet yang masih dianggap mahal (17,2 persen). Target internet murah, dengan demikian, hanya menyelesaikan satu dari tiga hambatan itu. Tanpa perangkat yang terjangkau dan literasi digital, jaringan yang tersedia pun belum tentu dipakai.
Perlu juga dibedakan dua angka fixed broadband yang sering tertukar. Komdigi menyebut penetrasi fixed broadband sekitar 22 persen dari total konektivitas. Sementara itu, APJII mencatat jumlah masyarakat yang berlangganan internet tetap mencapai 99,52 juta jiwa, atau 42,3 persen dari penduduk yang sudah terkoneksi. Kedua angka itu tidak bertentangan; penyebutnya berbeda. Yang satu mengukur pangsa fixed broadband dalam total konektivitas, yang lain mengukur proporsi pengguna internet yang berlangganan layanan tetap. Membandingkan keduanya tanpa menjelaskan penyebutnya hanya akan menimbulkan kesan yang keliru.
Jadi, di mana posisi Indonesia hari ini? Terhubung, ya — 235 juta pengguna adalah capaian besar. Namun, konektivitas itu masih bertumpu pada ponsel, pada 4G, dan pada harga yang bagi banyak rumah tangga masih terasa berat untuk internet tetap. Target 100 Mbps Rp100 ribu adalah arah yang tepat, tetapi ia baru akan bermakna bila tiga hal berjalan bersamaan: jaringan tetap diperluas hingga mendekati target 50 persen, harga benar-benar turun ke kisaran yang dijanjikan, dan kualitasnya stabil di lokasi pengguna, bukan hanya di kota besar. Sampai ketiganya terbukti, janji internet murah sebaiknya dibaca sebagai target kerja — bukan sebagai kenyataan yang sudah bisa dinikmati semua orang.













