Berita  

Google Ingatkan Bahaya WiFi Publik, 94 Persen Pengguna Android Berisiko

Avatar photo
Ilustrasi konseptual yang menunjukkan bahaya WiFi publik, di mana seorang peretas mencuri data dari smartphone yang terhubung ke jaringan tidak aman
Ilustrasi konseptual yang menunjukkan bahaya WiFi publik, di mana seorang peretas mencuri data dari smartphone yang terhubung ke jaringan tidak aman

SANEPO – Google secara resmi mengeluarkan peringatan keras bagi pengguna HP Android untuk menghindari penggunaan jaringan WiFi publik.

Peringatan ini menyoroti bahaya yang signifikan, yang dieksploitasi peretas untuk melancarkan serangan siber canggih, termasuk “man-in-the-middle”.

Imbauan ini diterbitkan dalam laporan “Behind the Scenes” edisi Oktober 2025, yang juga mengungkap bahwa 94% pengguna Android berisiko menjadi korban serangan berbasis teks yang dirancang untuk menimbulkan kerugian finansial.

Memahami Peringatan Google Soal Bahaya WiFi Publik

Laporan “Bedari Google melukiskan gambaran suram tentang lanskap keamanan seluler.

Dilansir dari CNBC Indonesia dan Kompas Tekno, Jumat (14/11/2025), laporan tersebut menyatakan bahwa serangan siber kini telah menjadi “perusahaan global yang canggih” yang dirancang untuk menimbulkan kerugian finansial dan tekanan emosional pada korban.

Survei yang dikutip dalam laporan itu menunjukkan tingkat kekhawatiran yang tinggi di kalangan pengguna.

Sebanyak 73% responden mengaku khawatir tentang penipuan seluler, dan 84% responden setuju bahwa penipuan semacam itu berbahaya bagi masyarakat.

menekankan bahwa akar masalah dari bahaya publik adalah sifat jaringannya. “Jaringan ini (WiFi publik) bisa tidak terenkripsi dan mudah dieksploitasi oleh penyerang,” demikian pernyataan Google, seperti dilaporkan oleh Phone Arena.

Jaringan yang tidak terenkripsi memungkinkan peretas untuk memposisikan diri mereka di antara perangkat pengguna dan internet, mengintip semua data yang lewat.

Ancaman Inti: Serangan ‘Man-in-the-Middle’ (MITM)

Ancaman terbesar di jaringan terbuka dikenal sebagai serangan “Man-in-the-Middle” (MITM).

Sesuai terminologi dari IBM, serangan MITM terjadi ketika peretas secara diam-diam menyadap dan bahkan mengubah komunikasi antara dua pihak, misalnya antara ponsel Anda dan situs web perbankan Anda.

Modus operandi yang paling umum adalah “Evil Twin” atau Kembaran Jahat. Peretas akan membuat titik akses WiFi palsu dengan nama yang sangat mirip dengan jaringan resmi.

Contohnya, jika WiFi resmi di sebuah kafe bernama “KafeKopi_FreeWiFi”, peretas mungkin membuat jaringan bernama “KafeKopi_Guest” atau “FreeWiFi_KafeKopi”.

Ketika pengguna terhubung ke jaringan palsu tersebut, semua lalu lintas internet mereka dialihkan melalui perangkat peretas.

Peretas kemudian dapat menggunakan teknik seperti “SSL Stripping” untuk memaksa browser korban beralih dari koneksi ‘https’ (aman dan terenkripsi) ke ‘http’ (tidak aman), memungkinkan mereka membaca data sensitif seperti nama pengguna, kata sandi, dan detail kartu kredit secara plaintext.

Peringatan Ganda: Bahaya ‘Juice Jacking’ di Stasiun Cas Umum

Peringatan keamanan ternyata tidak berhenti pada bahaya WiFi publik saja.

Otoritas keamanan internasional, termasuk Transportation Safety Administration (TSA) Amerika Serikat, telah mengeluarkan peringatan serupa yang menargetkan stasiun pengisian daya USB publik.

Seperti dilaporkan Travel + Leisure, TSA secara spesifik memperingatkan pelancong tentang risiko “Juice Jacking” atau “Port Jacking”.

Ini adalah metode serangan di mana peretas memodifikasi port USB publik di bandara, mal, atau hotel.

Saat pengguna menghubungkan ponsel mereka ke port yang telah disusupi tersebut, koneksi USB tidak hanya mentransfer daya, tetapi juga dapat digunakan untuk mencuri data pribadi dari perangkat atau secara diam-diam menginstal malware dan spyware.

Karena kabel pengisi daya standar juga berfungsi sebagai kabel transfer data, risiko ini menjadi sangat nyata.

Langkah Mitigasi: Cara Tetap Aman Menangkal Bahaya WiFi Publik

Meskipun saran utamanya adalah menghindari jaringan publik, Google dan pakar keamanan siber memberikan beberapa langkah mitigasi jika penggunaan terpaksa dilakukan.

Tips Keamanan Menggunakan WiFi Publik:

  1. Gunakan VPN yang Aman: Virtual Private Network (VPN) mengenkripsi semua lalu lintas internet Anda, membuatnya tidak dapat dibaca oleh peretas bahkan di jaringan yang tidak aman. Namun, Phone Arena memperingatkan untuk menghindari VPN gratis atau yang tidak dikenal, karena beberapa di antaranya bisa lebih berbahaya daripada tidak menggunakan VPN sama sekali.
  2. Hanya Akses Situs ‘HTTPS’: Selalu periksa bilah alamat browser Anda. Pastikan situs web yang Anda kunjungi memiliki ikon gembok dan alamatnya dimulai dengan ‘https’ (Hypertext Transfer Protocol Secure).
  3. Verifikasi Nama Jaringan: Sebelum terhubung, pastikan nama WiFi tersebut adalah jaringan resmi yang disediakan oleh lokasi tersebut. Tanyakan kepada staf jika perlu.
  4. Matikan Koneksi Otomatis: Nonaktifkan fitur “sambung otomatis” ke WiFi di ponsel Anda untuk mencegah perangkat terhubung secara otomatis ke jaringan yang tidak dikenal atau berbahaya.

Tips Keamanan Menggunakan Stasiun Pengisian Daya Umum:

  1. Gunakan Stopkontak Dinding: Pilihan teraman adalah selalu menggunakan stopkontak AC (colokan dinding standar) dengan adaptor pengisi daya dan kabel Anda sendiri.
  2. Bawa Power Bank: Menggunakan power bank pribadi menghilangkan kebutuhan untuk bergantung pada port USB publik.
  3. Gunakan USB Data Blocker: Ini adalah perangkat kecil (sering disebut ‘kondom USB’) yang dicolokkan di antara kabel Anda dan port USB publik. Alat ini secara fisik memblokir pin data, sehingga hanya mengizinkan aliran daya listrik.
  4. Pilih ‘Hanya Isi Daya’: Jika ponsel Anda menampilkan pop-up saat terhubung ke USB, selalu pilih opsi “Hanya Isi Daya” (“Charge Only”) dan jangan pernah memilih “Transfer File” atau “Percayai Perangkat Ini”.

Google juga menyarankan pengguna untuk selalu memperhatikan peringatan sistem Android, rutin menginstal pembaruan patch keamanan, dan meninjau rekening bank serta laporan kredit secara berkala untuk mendeteksi anomali lebih cepat.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *