SANEPO – Perkembangan teknologi Gen AI di smartphone diprediksi melejit jauh lebih cepat dari perkiraan awal.
Riset terbaru dari Counterpoint mengungkapkan bahwa fitur AI generatif tidak akan lagi eksklusif untuk ponsel flagship.
Pada tahun 2028, smartphone seharga Rp 1 jutaan (di bawah USD 100) diproyeksikan sudah akan dibekali kemampuan AI canggih.
Hal ini diungkapkan oleh Ridwan Kusuma, Research Associate Counterpoint, dalam acara Indonesia Gadget Awards 2025 di Jakarta, Kamis (13/11/2025), saat memaparkan riset “Tren AI & Indonesia Smartphone Market Overview”.
Ridwan Kusuma menjelaskan bahwa dunia kini telah memasuki fase baru dalam teknologi seluler, didorong oleh investasi AI global yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah.
Menurutnya, perpaduan antara kecerdasan buatan di dalam perangkat (on-device AI) dan komputasi awan (cloud AI) telah meningkatkan kemampuan Gen AI di smartphone secara masif.
Era baru yang dimulai sejak 2024 ini memiliki perbedaan fundamental dibandingkan AI beberapa tahun lalu. Ridwan menegaskan bahwa skala dan kemampuannya berbeda jauh.
“Kita berada di era Gen AI, dengan model yang dilatih miliaran data dan mampu memahami bahasa, gambar, video, serta konteks personal pengguna,” ujar Ridwan, dilansir dari detikINET, Jumat (14/11/2025).
Ia menambahkan bahwa kapabilitas canggih seperti ini belum pernah ada di smartphone keluaran 2018 ke bawah.
Kapabilitas Gen AI yang Mendefinisi Ulang Pengalaman
Riset Counterpoint memetakan berbagai kemampuan canggih yang kini menjadi fokus pengembangan Gen AI di smartphone.
Teknologi ini tidak hanya berfokus pada satu fungsi, tetapi mengubah cara pengguna berinteraksi dengan perangkat mereka secara keseluruhan.
Kapabilitas utama mencakup pemahaman teks dan kemampuan meringkas teks secara otomatis (text summarization), yang sangat membantu peningkatan produktivitas.
Selain itu, kemampuan generasi gambar dan video (image/video generation) langsung dari perangkat, fitur terjemahan langsung (live translation) saat melakukan panggilan telepon, dan pembuatan emoji atau avatar kustom berdasarkan preferensi pengguna juga menjadi standar baru.
Yang tidak kalah penting adalah kemampuan personalisasi pengalaman pengguna yang lebih mendalam.
Perangkat kini dapat belajar dari perilaku pemiliknya untuk memberikan rekomendasi dan layanan yang lebih relevan.
Ini semua didukung oleh asisten AI canggih seperti Gemini dan Apple Intelligence, yang kini terintegrasi lebih dalam ke sistem operasi.
Demokratisasi AI: Proyeksi 2028 Ponsel Rp 1 Jutaan Punya AI
Temuan paling signifikan dari riset Counterpoint adalah kecepatan demokratisasi atau penyebaran fitur Gen AI di smartphone ke semua segmen harga.
Jika pada tahun 2023 fitur ini masih sangat eksklusif dan hanya hadir di segmen premium (ponsel dengan harga di atas USD 400), pergeseran terjadi sangat cepat.
Pada periode 2024 hingga 2025, Counterpoint mencatat bahwa teknologi AI generatif mulai diadopsi secara luas oleh ponsel kelas menengah (mid-range) di rentang harga USD 200 hingga USD 399.
Puncaknya, riset tersebut memproyeksikan sebuah lompatan besar pada tahun 2028.
Pada tahun tersebut, smartphone di segmen entry-level atau dengan harga di bawah USD 100 (sekitar Rp 1 jutaan) diperkirakan sudah akan memiliki fitur AI generatif. Ini menandakan adopsi massal yang jauh lebih cepat dari perkiraan analis sebelumnya.
Cloud AI Sebagai Pendorong Utama Penurunan Biaya
Ridwan Kusuma mengidentifikasi faktor utama di balik percepatan fenomena ini, yaitu perkembangan pesat komputasi awan atau Cloud AI.
Menurutnya, perpaduan antara AI yang diproses di perangkat (on-device) dan AI berbasis cloud menjadi kunci utama yang memungkinkan demokratisasi ini.
“Cloud AI menurunkan cost di perangkat, tapi memberikan kapabilitas besar,” jelas Ridwan.
Dengan beban pemrosesan komputasi AI yang berat, seperti melatih model bahasa besar, dipindahkan ke cloud, produsen tidak lagi memerlukan chipset yang sangat mahal di dalam ponsel untuk menjalankan fitur-fitur canggih.
Strategi ini secara efektif menurunkan biaya produksi perangkat, membuka jalan bagi implementasi Gen AI di smartphone segmen bawah tanpa mengorbankan fungsionalitas inti.
Pasar Negara Berkembang, Termasuk Indonesia, Paling Antusias
Meskipun teknologi ini dikembangkan secara global, survei Counterpoint menemukan fakta menarik mengenai tingkat adopsi pengguna. Tingkat antusiasme tertinggi terhadap Gen AI di smartphone justru datang dari negara-negara berkembang.
“Indonesia dan Thailand termasuk pasar yang paling terbuka dan cepat mengadopsi fitur Gen AI,” ungkap Ridwan.
Berbeda dengan beberapa pasar di negara maju yang mungkin merespons dengan lebih hati-hati, pengguna di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, melihat AI sebagai alat praktis yang memberikan nilai nyata.
Alasan utama pengguna global memilih ponsel berbasis Gen AI, menurut survei, adalah untuk meningkatkan efisiensi (58%), kemampuan menghasilkan konten berkualitas tinggi, mengoptimalkan pengalaman penggunaan, membantu dalam pengambilan keputusan, serta memperbaiki kualitas foto dan video.
Di Indonesia, Ridwan menyebut pengguna merasa AI benar-benar meningkatkan produktivitas dan aspek hiburan dalam kehidupan sehari-hari.
Kecepatan adopsi ini dipastikan memicu kompetisi yang semakin ketat di pasar Gen AI di smartphone.
Riset Counterpoint memprediksi Apple dan Google akan tetap dominan berkat integrasi kuat antara perangkat keras dan lunak mereka. Sementara Samsung diproyeksi tumbuh signifikan melalui ekosistem Galaxy AI.
Di sisi lain, pemain besar seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, Realme, dan Honor akan terus berupaya memperluas fitur AI mereka ke segmen harga yang lebih terjangkau.
Ridwan menyimpulkan bahwa adopsi Gen AI di smartphone bukan lagi sekadar gimik, melainkan telah menjadi standar wajib di hampir seluruh lini produk smartphone global menjelang 2029.
***






