Bayar pakai ponsel kini terasa seperti hal biasa. Dari belanja daring, membayar tagihan, sampai mengirim uang ke teman, semuanya bisa beres dari satu aplikasi. Survei terbaru Jakpat mencoba memotret kebiasaan ini: layanan teknologi finansial (fintech) apa saja yang benar-benar dipakai publik Indonesia pada 2026? Hasilnya menunjukkan satu pemenang yang jauh di depan, satu layanan yang terus menanjak, dan dua layanan pinjaman yang justru kehilangan peminat.
E-Wallet: Dipakai Hampir Semua Responden
Dompet digital atau e-wallet menjadi layanan fintech yang paling banyak digunakan, dengan 94% responden mengaku memakainya. Angka ini jauh di atas layanan lainnya dan menegaskan posisi e-wallet sebagai pintu utama masyarakat ke dunia pembayaran nontunai.
Masuk akal jika e-wallet memimpin. Layanan ini tinggal di dalam ponsel, bisa dipakai untuk belanja, membayar tagihan, hingga transfer, tanpa perlu membawa kartu fisik atau uang tunai. Bagi banyak orang, e-wallet bukan lagi sekadar alat bayar cadangan, melainkan dompet utama sehari-hari.
Paylater di Posisi Kedua
Di urutan kedua ada paylater, yang dipakai oleh 34% responden. Layanan ini memungkinkan pengguna membeli barang atau jasa sekarang dan membayarnya belakangan, baik lunas di kemudian hari maupun dengan cara dicicil dalam tenor tertentu.
Paylater umumnya menempel di platform belanja daring dan aplikasi dompet digital, sehingga tawaran cicilannya muncul tepat di momen orang hendak membayar. Kemudahan inilah yang membuatnya terasa praktis, terutama bagi pengguna yang tidak memiliki kartu kredit.
Pinjol, Crowdfunding, dan P2P Lending
Di bawah paylater, ada pinjaman online (pinjol) yang dipakai 9% responden. Pinjol dikenal karena proses pengajuannya yang cepat dan mudah, biasanya sepenuhnya lewat aplikasi tanpa tatap muka.
Selanjutnya, pendanaan kolektif atau crowdfunding dipakai 5% responden. Layanan ini mengumpulkan dana dari banyak orang untuk membiayai suatu kegiatan, termasuk donasi dan proyek sosial. Di posisi terakhir ada P2P lending, pinjaman antar-pihak yang mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman secara daring, yang dipakai 2% responden.
Perlu dicatat, angka tiap layanan dibaca masing-masing dan tidak dijumlahkan menjadi 100 persen. Total persentasenya melebihi 100 persen, yang berarti responden dapat memakai lebih dari satu layanan sekaligus. Seseorang bisa saja memakai e-wallet setiap hari, sesekali memakai paylater, dan pernah berdonasi lewat crowdfunding.
Tren: yang Naik dan yang Turun
Dibandingkan survei tahun sebelumnya, penggunaan e-wallet, paylater, dan crowdfunding mengalami peningkatan. Sebaliknya, pengguna pinjol dan P2P lending justru menurun. Besaran perubahan tiap layanan tidak dirinci dalam ringkasan hasil survei yang dikutip artikel ini, sehingga artikel ini hanya menyampaikan arah trennya, bukan selisih persentasenya.
Analisis: Kenapa Paylater Naik dan Pinjol Turun?
Bagian ini adalah analisis redaksi, bukan temuan survei Jakpat. Survei hanya mencatat angka penggunaan dan arah trennya, bukan alasan di baliknya.
Paylater kemungkinan naik karena ia hadir di tempat orang sudah berbelanja. Cicilan ditawarkan tepat di halaman pembayaran, sering dibundel promo, dan tidak mensyaratkan kartu kredit. Bagi pengguna muda yang akrab dengan belanja daring, paylater terasa seperti perpanjangan alami dari e-wallet, bukan seperti mengajukan pinjaman.
Pinjol kemungkinan turun karena citranya yang lebih berat. Kasus pinjol ilegal, cerita bunga dan denda yang membengkak, serta pengetatan pengawasan membuat sebagian orang berpikir dua kali sebelum meminjam uang tunai lewat aplikasi. Sebagian kebutuhan dana mendesak itu pun bisa jadi beralih ke paylater, yang limitnya melekat pada aktivitas belanja dan terasa lebih terkendali.
P2P lending yang hanya dipakai 2% responden juga mudah dipahami: layanan ini lebih dikenal sebagai produk investasi bagi pemberi dana atau pinjaman usaha, bukan sebagai alat bayar harian. Sementara crowdfunding yang naik tipis kemungkinan terbantu oleh kebiasaan donasi daring, yang makin mudah dilakukan lewat tautan dan dompet digital.
Terlepas dari trennya, satu prinsip tetap berlaku: paylater dan pinjaman apa pun adalah utang. Sebelum memakai, periksa bunga, biaya, dan tenornya, pastikan penyelenggaranya berizin dan diawasi otoritas yang berwenang, dan pinjam hanya sesuai kemampuan bayar.
Tentang Survei Ini
Survei ini dilakukan Jakpat pada 19–27 Agustus 2026 dengan 1.920 responden, melalui kuesioner di aplikasi mobile Jakpat. Margin of error-nya di bawah 5%, dan sampel disesuaikan dengan proporsi populasi pengguna internet di Indonesia. Komposisi respondennya meliputi 52% perempuan dan 48% laki-laki, dengan status ekonomi menengah 57%, atas 34%, dan bawah 9%. Mayoritas responden adalah Milenial (40%), diikuti Gen Z (39%) dan Gen X (21%).
Karena sampelnya mencerminkan populasi pengguna internet, hasil ini paling tepat dibaca sebagai gambaran perilaku pengguna digital Indonesia, bukan sensus seluruh penduduk. Laporan Jakpat yang dikutip berjudul Digital Payment & Mobile Banking Usage, bagian pertama dari seri Jakpat Fintech Trends Report 2026.
Penutup
Gambaran besarnya jelas: e-wallet sudah menjadi infrastruktur pembayaran sehari-hari, paylater menjadi pelengkap belanja yang makin diterima, sementara pinjaman tunai daring kehilangan daya tarik. Bagi pengguna, pesannya sederhana — manfaatkan kemudahan fintech, tetapi tetap hitung kemampuan bayar sebelum mencicil atau meminjam apa pun.













