SANEPO – Microsoft dilaporkan akan memberlakukan syarat driver Windows 11 yang jauh lebih ketat pada pembaruan versi 24H2 mendatang. Aturan baru ini berpotensi membuat komputer (PC) dengan prosesor (CPU) lawas tidak dapat lagi memasang driver untuk perangkat keras baru, sekalipun sebelumnya berhasil melewati persyaratan instalasi awal Windows 11.
Persyaratan Tersembunyi di Tingkat CPU
Menurut laporan mendalam dari media teknologi XDA-Developers, perubahan krusial ini terletak pada kewajiban penandatanganan driver (driver signing) yang kini menuntut keberadaan instruksi CPU spesifik bernama PREFETCHW. Instruksi ini secara teknis baru hadir pada CPU Intel generasi Broadwell (rilis sekitar 2014) dan AMD generasi Zen 1 (rilis sekitar 2017).
Akibatnya, pengguna yang menjalankan Windows 11 pada perangkat keras yang tidak didukung secara resmi—misalnya dengan CPU Intel generasi Haswell (Generasi ke-4) atau yang lebih tua—akan menghadapi masalah serius.
Saat mereka mencoba memasang driver untuk komponen baru seperti kartu grafis, printer, atau periferal lainnya di masa depan, prosesnya kemungkinan besar akan gagal karena syarat driver Windows 11 yang baru ini.
Kebijakan ini dianggap lebih mengikat dibandingkan persyaratan awal seperti TPM 2.0 dan Secure Boot yang selama ini masih bisa diakali oleh sebagian pengguna. Persyaratan instruksi CPU adalah batasan pada level perangkat keras yang fundamental dan jauh lebih sulit untuk dilewati.
Baca Juga : Cara Upgrade Windows 10 ke Windows 11 Tanpa Kehilangan Data
Alasan Keamanan vs Dampak Anti-Konsumen
Dari perspektif Microsoft, langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan keamanan sistem operasi. Dilansir dari berbagai dokumentasi teknis perusahaan, penandatanganan driver yang lebih ketat melalui metode seperti attestation signing bertujuan untuk memastikan bahwa hanya driver yang terverifikasi dan tidak dimodifikasi yang dapat berjalan di sistem. Ini secara signifikan mengurangi risiko serangan malware yang menyamar sebagai driver perangkat keras.
Namun, kebijakan ini menuai kritik tajam. XDA-Developers menyebut langkah ini sebagai “anti-konsumen” karena secara efektif memaksa pengguna untuk melakukan upgrade perangkat keras yang masih berfungsi dengan baik.
Alih-alih melindungi pengguna, kebijakan ini dinilai lebih sebagai cara untuk “mematikan” dukungan bagi PC lawas yang sebelumnya masih bisa menjalankan Windows 11.
Bagi jutaan pengguna yang telah menginstal Windows 11 di mesin-mesin tua, pembaruan 24H2 bisa menjadi akhir dari siklus hidup perangkat mereka. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menggunakan versi lama tanpa pembaruan fitur dan keamanan, atau terpaksa membeli komputer baru.
***












