Habitat Bakteri Anaerob Sebagai Flora Normal

  • Whatsapp
Bakteri Anaerob
Advertisement
Advertisement

Bakteri anaerob tersebar luas di alam pada habitat bebas oksigen. Bakteri ini, selain hidup sementara atau menetap sebagai flora normal pada kulit dan saluran pencernaan manusia dan hewan, juga dapat ditemukan di tanah.

Bakteri Anaerob dalam Tubuh

Banyak flora normal manusia merupakan bakteri anaerob, termasuk Spirochaeta dan kokus serta batang positif Gram maupun negatif Gram. Sebagai contoh, usus besar manusia yang mempunyai tekanan oksigen rendah mengandung populasi besar bakteri anaerob lebih dari 1011 organisme per gram kandungan kolon.

Advertisements

Di dalam usus besar ini, jumlah bakteri anaerob sering kali lebih banyak daripada yang fakultatif anaerob, yaitu paling sedikit 100 kali lipat jumlahnya. Selain itu mikroorganisme yang peka terhadap oksigen (anaerob atau fakultatif anaerob) juga banyak dijumpai sebagai flora normal di bagian tubuh lainnya, misal gusi, tonsil, hidung, folikel rambut, uretra dan permukaan gigi.

Advertisements

Kebanyakan permukaan mukokutan pada manusia ditempati oleh flora endogen yang kaya akan bakteri aerob dan anaerob, yang bervariasi pada berbagai tempat anatomik dalam hal jumlah dan spesies mikroba.

Saluran napas bagian atas, termasuk rongga mulut, rongga hidung, orofaring, dan nasofaring, memiliki flora yang kompleks dan bervariasi pada berbagai tempat yang dikenal sebagai relung ekologik (ecologic niche). Berarti, bahwa flora mukosa bukal berbeda dengan flora pada gigi, permukaan gusi, celah gusi, lidah, atau saliva, meskipun secara anatomis tempat itu menjadi satu atau letaknya berdekatan.

Kadar Bakteri

Kadar bakteri pada saliva adalah sekitar 108/ml, dan kurang lebih setengah dari jumlah itu berupa bakteri anaerob, dengan Veillonella sebagai bentuk yang dominan. Pada celah gusi, nilai Eh serupa dengan Eh kolon, yaitu —300 my, dan kadar bakteri mencapai 1012/ml, yang merupakan batas geometrik penempatan bakteri dalam ruang.

Bacaan Lainnya

Advertisements

Di sini, bakteri anaerob merupakan lebih dan 99% organisme yang dapat dibiak. Sinus, tuba Eustachii, dan saluran napas di bawah glotis pada umumnya steril. Meskipun demikian, aspirasi transtrakeal pada sukarelawan yang sehat menunjukkan bahwa sekitar 20% orang sehat tanpa penyakit paru menahun mengandung sejumlah kecil bakteri, terutama bakteri aerob pada saluran napas bagian bawah.

Spesies Bakteri Aneorob

Bakteri anaerob yang potensial bersifat patogenik pada saluran napas bagian atas ialah spesies Peptostreptococcus (Streptococcus anaerob), spesies Fusobacterium (terutama F. nucleatum), dan spesies Bacteroides (kelompok B. melaninogenicus, kelompok B. oralis, B. ruminicola, B. urealyticus, dan B. disiens).

Pada traktus gastrointestinalis, terdapat variasi menonjol kadar serta pola bakteriologik. Lambung, yang dilindungi oleh keasaman lambung, mengandung bakteri dad saliva, terutama bersifat positif Gram, disertai jumlah bakteri anaerob yang bervariasi.

Advertisements
Advertisements

Pada usus halus, mekanisme utama pengendalian populasi adalah gerakan usus, sehingga kebanyakan organisme yang ditemukan di sini hanya sepintas saja. Aliran yang terhenti atau stagnasi pada segmen usus (misalnya, pada striktura, obstruksi, divertikula usus halus, atau lengkung buntu (blind loop) yang dibuat melalui pembedahan akan berakibat kadar bakteri yang tinggi dengan predominasi bakteri anaerob, serupa dengan yang ditemukan pada kolon. Pola pertumbuhan bakteri yang berlebihan ini mungkin menjadi sebab timbulnya sindrom malabsorpsi.

Kadar bakteri anaerob terbesar ditemukan pada ileum terminal dan kolon yang relatif stagnan, yang mencapai 1012/ gram, dan 99,9% -nya berupa bakteri anaerob mencakup kira-kira 400 spesies mikroba, termasuk Peptostreptococcus, Bacteroides, Fusobacterium, Clostridium, dan berbagai batang positif Gram tidak berspora (Bifidobacterium, Eubacterium, dan Lactobacillus).

Flora usus bukan saja bervariasi dalam penyebaran longitudinal, tetapi juga dalam penyebaran lintang. Organisme yang mengadakan kolonisasi di tempat ini biasanya berhubungan erat dengan permukaan mukosa dan selubung mukosa (mucosal sheath). Flora kolon terbentuk secara sempurna setelah bayi disapih dan diperkiraan relatif tetap stabil seumur hidup kecuali terganggu oleh penyakit atau pengobatan antibiotika.

Advertisements

Bakteriologi traktus genitalis wanita jauh kurang stabil bila dibandingkan flora traktus gastrointestinalis. Kadar bakteri pada vagina dan serviks menunjukkan nilai rata-rata sekitar 108/ml, tetapi terdapat variasi yang cukup besar, berkisar antara 105 sampai 1011/ml.

Advertisements

Biakan simultan dan serviks dan vagina menunjukkan pola bakteriologik yang unik pada per dan biakan sekuensial juga menunjukkan pergeseran yang cukup besar pada berbagai tahap daur haid, yang kemungkinan dipengaruhi hormon. Kebanyakan organisme di sini berupa bakteri anaerob, meskipun sekali lagi terdapat variasi yang cukup besar, sedangkan sekitar 20% wanita tidak mengandung bakteri anaerob dalam jumlah yang terdeteksi, atau setidaknya dengan kadar yang sangat rendah.

Bakteri anaerob dominan di sini adalah spesies Lactobacillus, Peptostreptococcus dan Bacteroides. B. fragilis hanya ditemukan pada 2-10%. Hams dicatat bahwa kadar dan spesies bakteri di atas berlaku untuk wanita sehat yang menstruasi dan tidak dirawat di rumah sakit.

Advertisements

Belum dilakukan penelitian kuantitatif pada wanita premenarke atau pascamenopause, meskipun biakan kualitatif pada keadaan ini menunjukkan perbedaan besar, hasil yang terutama tinggi adalah bakteri koliform. Faktor lainnya yang mempengaruhi pola bakteriologik tersebut meliputi kehamilan, bedah ginekologik, dan pengobatan antibiotika.

Flora kulit mengandung sejumlah besar bakteri anaerob, dengan Propionibacterium acnes sebagai spesies yang dominan, dan secara kuantitatif kurang lebih setengah dan flora yang dapat dibiak dan berbagai tempat anatomik.

Flora kulit pada perineum sampai daerah tertentu, juga pada tungkai, umumnya mengandung komponen flora kolon. Uretra pada kedua jenis kelamin mengandung flora kulit ataupun spesies Bacteroides dan Fusobacterium.

Advertisements
Advertisements

Mekanisme timbulnya penyakit oleh infeksi bakteri anaerob ialah:

  1. Produksi toksin oleh bakteri
  2. Masuknya bakteri
  3. Faktor virulensi
  4. Faktor predisposisi
  5. Sinergi
Advertisements
Advertisement

Pos terkait

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *